Balada Intan dan Arang

Gambar dari Setaswall

Suatu malam yang damai diterangi terangnya bulan dan bintang. Berpadu dengan suara serangga malam dan remang-remang lampu jalan. Asap dari penjual sate pinggir jalan menambah suasana malam itu semakin eksotik.

Nampak seorang perempuan berhijab biru dengan mengendarai sepeda motor matic biru berhenti dan menghampiri tukang sate tersebut.
“Pak, satenya masih?” Tanya perempuan muda itu.
“Masih mbak, masih banyak. Baru jam delapan malam, biasanya baru habis kalau sudah sekitar jam sembilan. Mau berapa tusuk?” Jawab lelaki tua rentan itu dengan suara paraunya. Rona wajahnya nampak bergaris dan sayu. Menunjukkan bahwa dia adalah orang yang telah lanjut usia.
“Satu porsi berapa tusuk?”
“Satu porsinya 10 tusuk” Jawab penjual sate sambil membolak-balikkan satenya.
“Oh iya satu porsi aja pak”
“Tunggu sebentar ya mbak”

Asap mulai membumbung tinggi membawa aroma khas ke segala penjuru. Dengan gerobak sate yang terlihat kuno, bahkan sudah rusak bagian sana-sini, orang tua rentan itu dengan tekun mengipasi satenya. Seakan semangat mudanya tak pernah luntur dimakan usia. Dalam hati, perempuan itu ingin rasanya bertanya tentang kepribadian tukang sate tersebut kenapa di usia senja seperti itu masih semangat berjualan.

“Bapak sudah berapa lama jualan sate?” Tanya perempuan itu setelah beberapa saat.
“Wah kalau kapannya sih saya juga sudah lupa tahun berapa, semenjak saya masih sekitar seumuran mbaknya. Mungkin lebih tua sedikit.” Jawab orang tua itu sembari membakar sate pesanan.
“Jualan sendirian saja pak?”
“Dulu sih bersama istri, sekarang sendiri saja. Sudah cerai lama, waktu masih muda dulu. Kalau keingat dulu itu rasanya seperti ingin kembali ke masa lalu dan ingin memperbaikinya. Ya namun memang penyesalan itu memang datang terakhir.” Jelas orang tua tersebut. Tatapannya seakan kosong membayangkan masa lalunya.
“Keluarga yang lain?” Tanya perempuan itu penasaran.
“Cuma tinggal saya seorang. Mungkin kalau masa muda dulu saya tidak nakal dan bersungguh-sungguh dalam membangun hidup, mungkin sekarang tidak seperti ini. Saya selalu bermimpi masa tuaku duduk di kursi depan rumah sembari menghabiskan masa tua dengan pasangan hidup. Bercengkerama berbagi kehidupan.” Kata orang tua tersebut. Terlihat matanya sedikit berkaca-kaca.

Keheningan menyelimuti malam. Malam itu seakan menjadi malam yang sunyi dan panjang. Asap yang melambung ke udara seakan-akan membawa harapan-harapan dan doa si orang tua. Berharap masa tuanya dapat dihabiskan dengan damai.
“Dari berjualan sate, saya mulai belajar bahwa semua itu butuh perjuangan.” Lanjut orang tua tersebut.
“Perjuangan seperti apa?” Tanya perempuan itu penasaran.
“Kau lihat satu karung arang itu?” Tanya si orang tua penjual sate.
“Iya, itu arang yang sangat banyak.”
“Mahal mana dengan cincin intan kecil yang sedang kau pakai?.” Tanya kembali si tukang sate setelah melihat cincin intan kecil berkilauan yang dikenakan wanita berhijab itu.
“Emm… mahal cincin ini.” Jawab perempuan itu bingung mendengar pertanyaan si orang tua yang sedikit membingungkan.
“Iya, memang jauh lebih mahal intan. Satu gerobak arang saja jauh lebih murah dari sebutir intan. Padahal arang dan intan itu dulunya adalah benda yang sama. Yaitu unsur karbon. Teringat dulu waktu masih SMA, guruku mengajarkan tentang hal tersebut. Dari itulah aku menyadari bahwa aku seperti arang ini.”
“Emm… Maksudnya seperti arang?” Tanya perempuan itu kebingungan.
“Arang dan intan diciptakan sama. Sama-sama dari unsur karbon. Yang membedakan adalah intan melalui proses yang sangat panjang. Di dalam bumi, intan mengalami panas yang sangat, tekanan yang kuat, dan gelapnya bumi. Intan berjuang dengan semua itu sehingga ia menjadi benda yang keras dan kokoh. Setelah menjadi keras dan membatu, intan berbagi kemilaunya dengan lingkungan. Sehingga menjadikan derajatnya naik dan menjadi barang beharga.” Terang orang tua tersebut.
“Lalu apa yang terjadi dengan arang?” Tanya si perempuan.
“Sedangkan arang hanyalah melalui proses yang singkat dan sederhana. Ia hanya melalui pembakaran, menjadikannya mudah rapuh, gelap dan tidak berkilau. Hanya patut dijadikan bahan bakar kembali. Sama halnya dengan manusia. Manusia diciptakan sama pada mulanya, yang membedakan adalah tekad dan perjuangannya. Jika manusia itu tetap tegar dalam menghadapi cobaan dan ujian, niscaya akan menjadi seperti intan. Jika tidak pastilah arang tempat kembalinya.” Kata orang tua tersebut dengan tatapan sedih dan penuh harap. Perempuan berhijab hanya bisa terdiam terpaku, secara tidak sengaja air matanya jatuh membasahi pipinya.
“Namun sekarang saya hanya bisa menatap arang ini, berharap suatu saat berubah menjadi sebuah intan.” Lanjut si orang tua sembari memberikan pesanan kepada perempuan berhijab.

Si perempuan langsung mengusap air matanya dan menerima pesanannya.
“Terima kasih pak, dan juga motivasi yang sangat menyentuh. Saya jadi ikut hanyut.”
“Sama-sama. Jangan seperti saya, jadilah intan. Sinarilah hidupmu dengan perjuangan. Jalan masih panjang.” Kata si orang tua.

Malam itu, menjadi malam yang panjang. Malam penuh renungan dan harapan.