Terlalu lama? Tutup di sini

Embun Senja

Embun senja, terdengar aneh memang. Seharusnya seperti embun pagi, di mana uap air merebahkan lelahnya ke tanaman terdekat. Karena terlalu lama melayang di udara dan kedinginan di pagi yang menggigil. Bersatu menciptakan pagi yang eksotis. Namun kisah ini bukan soal pagi dan keindahan embunnya. Kisah ini tentang embun senja.

Ijinkan aku berkisah sebelum senja mulai redup. Sebelum senja jatuh menampakkan gelapnya, menampakkan kesepiannya. Sebuah kesedihan yang mendalam. Sebuah perasaan kehilangan, yang bahkan hilang sebelum sempat memilikinya. Mengabadikannya.

Senja. Iya kau, Senja. Kau datang tak terduga, tiba-tiba kau menampakkan diri setelah sekian lama aku berlabuh pada pagi. Setelah sekian lama aku merebahkan lelahku atas pencarian dalam perjalanan panjang melewati ribuan hari.

Aku tahu, Senja, aku telah melewati banyak hari. Sejak saat itu, waktu selalu menyapaku. Entah itu siang, malam, tengah malam, atau waktu-waktu yang lain. Namun, aku tak pernah merebahkan diriku pada waktu-waktu itu. Karena aku, secara jujur tak memiliki rasa dan nyaman atau setidaknya aku tak memberi mereka sebuah pilihan agar aku bisa berlabuh padanya.

Aku, sebagai sebuah embun, telah begitu nyaman dengan pagi. Ada perasaan yang tak bisa dipisahkan. Aku telah terbiasa dengan zona nyaman ini. Hingga aku terlalu takut untuk beranjak dari pagi.

Namun, entah kenapa suatu ketika aku menemukanmu Senja. Ketika aku diujung sebuah keputusasaan, ketika aku disengat panasnya terik siang. Aku merasa menguap dan lambat laun menghilang. Saat itu kau hadir Senja. Sebuah senja yang sendirian, damai, jingga kemerah-merahan. Mengisyaratkan akhir dari sebuah hari yang akan selalu terkenang.

Aku tahu, akan asing bagiku merebahkan diriku padamu Senja. Menciptakan sebuah nuansa baru yaitu Embun Senja. Namun, aku tak kuasa secara penuh atas semua kehendak penciptaku. Aku pun tak mampu mengelak. Meski aku tahu aku telah memiliki pagi.

Jika telah digoreskan sebuah naskah di langit sana, Senja. Aku akan kembali menjemputmu. Merebahkan diriku padamu lagi. Karena aku tahu, Senja. Semua hal dapat terjadi atas Kehendak-Nya. Aku tahu senja tak selamanya abadi di hari yang sama. Ya, memang berat untuk mengabadikan senja selamanya. Layaknya memegang lilin agar tetap menyala ketika hujan di bulan November. Namun, senja terbenam hanya untuk terbit kembali. Memberimu harapan. Hope Springs Eternal.

Credit:
Picture Detail: Embun Senja (Karena embun tak melulu soal pagi)
Loc: Sawah dusun Dodogan, Patebon, Kendal, Jawa Tengah
Time: 27 Juni 2018, 17:15 WIB