Jurnal Mimpi

Jurnal Mimpi

Mimpi. Sebuah kata sederhana yang mengandung banyak harapan. Mungkin juga terselip beberapa doa di dalamnya yang terus memohon agar mimpi bukanlah sekadar mimpi. Apalagi mimpi di atas mimpi.

Aku, layaknya banyak orang di luar sana, mengawali hari dengan harapan. Atau bisa disebut sebuah impian. Ada pepatah mengatakan, “Hidup berawal dari mimpi”. Ya, hidup memang berawal dari sebuah impian atau harapan. Harapan untuk meraih pencapaian.

Aku, seseorang yang memiliki banyak mimpi di dunia ini. Yang mana kebanyakan dari mimpiku terbang entah ke mana. Apakah karena aku lupa untuk mengikatkan tali ke mimpi-mimpiku? Sebuah usaha untuk menjaga agar mereka tak melayang bebas dan hilang. Aku bahkan lupa untuk menyelipkan beberapa surat di mimpiku. Seandainya mimpiku terbang terlampau jauh ke atas dan sampai ke Tuhan, aku bisa memohon agar Tuhan bisa memeluknya; harapan dan doaku. Ya, dari semua itu, aku belajar bahwa mimpi bukan sekadar tentang harapan. Tapi juga sebuah usaha dan doa.

Dalam semua kegagalan mimpiku yang tak kunjung turun, aku terus berdoa. Hingga suatu ketika aku menemukan sebuah mimpi yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Mimpi tentang Pagi dan Senja. Sebuah mimpi yang tak pernah aku harap. Mimpi yang tiba-tiba masuk menerobos rongga dada dan bersemayam di dalam hati. Ya, mimpi tentang memiliki Pagi atau Senja. Sebuah pilihan yang sulit yang tak aku hendaki hadirnya.

“Jurnal Mimpi” begitu aku menyebutnya. Satu-satunya kumpulan mimpiku yang entah mengapa aku sulit untuk mengartikan dan memilihnya. Ada sebuah harapan besar dalam Jurnal Mimpi ini, yang mana membawa kekecewaan yang besar pula ketika mimpi telah diputuskan dan diturunkan. Dalam hati kecilku, aku tak mampu dan tak mau ada yang terluka atas mimpi ini. Namun aku juga tahu bahwa “Saat kau mengenal kasih sayang, kau juga menanggung risiko kebencian.” -Uchiha Itachi.

Oleh karenanya dalam setiap malamku, aku selalu berusaha meletakkan egoku serendah-rendahnya. Meletakkan pikiran sejajar dengan tanah. Sehingga aku dapat terbang dan menemukan jawaban di langit sana. Entah berapa juta huruf, beribu kata dan kalimat yang telah terproduksi dari hati dan keluar dari mulutku. Sampai aku tak mampu mengingatnya. Satu hal yang selalu aku ingat. Yaitu hadirnya antara Pagi dan Senja di setiap malamku. Kutorehkan setiap mimpinya dengan keyboard virtualku ke catatan. Berharap jawaban terbaik atas mimpiku.

Hari demi hari aku lewati dengan rasa yang tak bisa dijelaskan. Ketika aku harus meninggalkan semua egoku, semua yang mengikatku. Aku tahu ini demi kebaikan, demi mengisi lubang di hati. Aku teringat sebuah kata mutiara “Lubang di hatimu adalah kekosongan yang akan diisi oleh orang lain.” -Uzumaki Naruto. Yang jadi pertanyaan adalah; siapakah yang mampu mengisi lubang ini?

Setidaknya dengan semua usahaku dan doaku dalam mengisi Jurnal Mimpi, aku berusaha keluar dari zona nyaman. Layaknya payung adalah kenyamanan, hujan adalah kehidupan. Kamu harus sering keluar dari zona nyaman untuk merasakan hidup. Itulah yang sedang aku jalani. Merangkai mimpi dalam zona tak nyaman ini untuk merasakan hidup lebih berarti. Sebuah pembelajaran yang tak kan pernah kau dapat di bangku sekolah.

Aku tak tahu, aku pun tak bisa memberi kepastian apakah Jurnal Mimpi ini akan terus terisi. Meski sebuah jawaban lambat laun mulai turun, aku putuskan dengan berat hati paling dalam untuk pergi. Aku terlalu lemah dan tak mampu untuk meletakkan egoku serendah-rendahnya di setiap malamku. Mungkin aku kurang kebencian. “Kau lemah, kenapa kau lemah? Soalnya kurang sesuatu, yaitu kebencian.” -Uchiha Itachi.

Maafkan aku, meski Jurnal Mimpi telah menampakkan takdirnya. Namun aku telah dikalahkan oleh seseorang yang lebih kuat dariku. “Ada orang yang jauh lebih kuat yang pernah mengalahkanku! Dia orang yang tak pernah putus asa!” -Neji Hyuga. Aku tahu apa yang aku putuskan akan berdampak kekecewaan yang besar. Sebuah rasa yang tak bisa dijelaskan. Bahkan benci. “Ketika seseorang terluka, mereka akan belajar untuk membenci.” -Jiraiya.

Aku harap tiada lagi kesedihan di antara kita. Tiada lagi perang antara Embun, Pagi, dan Senja. Karena aku paham bahwa “Perang lahir dari keinginan kita untuk melindungi orang yang kita sayangi.” -Minato Namikaze. Maka dari itu, aku akan menyudahi perang ini. Karena aku tak mau ada sakit berkepanjangan dan lebih besar.

Biarlah aku di sini sepi. Simpanlah Jurnal Mimpiku sebagai bukti bahwa Tuhan menyayangi kita semua. Kita; Embun, Pagi, dan Senja. Kau telah mengerti kan kalau hidup itu adalah seni meggambar tanpa penghapus? Kau harus pandai-pandai memperbaiki kesalahan tanpa menghapus kenangannya. Biar lah menjadi kenangan dan pelajaran. Tak perlu kau hapus. Kau adalah dirimu. Meski tanpaku, kau tetaplah dirimu yang seutuhnya. “Kau adalah daun yang bermandikan sinar matahari, aku adalah akar yang tumbuh dan membusuk di kegelapan.” -Danzo Shimura.

Credit:
Picture Detail: Sebuah harapan mampu melihat bahwa ada cahaya di tengah kegelapan
Loc: Kamar Delonix Vanesta
Time: 2 Mei 2018, 11:26 WIB

 

JURNAL MIMPI
  • BUKA

    00110110 01000100 00100000 00110110 00111001 00100000 00110110 01000100 00100000 00110111 00110000 00100000 00110110 00111001 00100000 00110010 01000101 00100000 00110111 00110110 00100000 00110110 00110001 00100000 00110110 01000101 00100000 00110110 00110101 00100000 00110111 00110011 00100000 00110111 00110100 00100000 00110110 00110001 00100000 00110010 01000101 00100000 00110110 01000101 00100000 00110110 00110101 00100000 00110111 00110100