Surat Cinta dari “Pagi”

Surat Cinta dari Pagi

Mendadak tubuhku melemah. Lebih lemah dari hari yang pernah terlewati. Mendadak tubuhku dingin, sedingin sikapmu padaku. Berkali-kali rasa sakit itu menimpaku. Sakit, sakit, dan sakit. Suratku tak mengubahmu. Usahaku kau anggap angin berlalu.

Baik, dengan kelembutan hati yang dingin, sedingin pagi buta dan rasa sakit yang sangat berbekas, aku putuskan untuk menguapkan Embun. Biarlah aku yang akan pergi. Biarlah kamu memilih Senja dengan segala kemilau emasnya yang berpendar melalui bening parasmu. Lelahku berpesan, “aku Pagi, tak bisa berdampingan dengan Senja“. Kau pun tak mampu merebah di waktu yang berbeda secara bersamaan. Kau tak menunjukkan setiamu. Kau sering berpindah menjadi Embun Pagi kemudian menjelma menjadi Embun Senja.

Biarkan aku mencari pendamping sejatiku. Biarkan aku terbit sendiri. Usahamu tak kau tunjukkan pada Tuhanmu. Kau bilang, kau tak mau kehilangan Pagi. Ah itu dusta! Ternyata kau tak mau kehilangan Pagi dan Senja. Sudah jelas kau menduakan terbitnya Pagi. Menyakiti hatiku bertubi-tubi. Tersayat memang, tapi kau seperti tak berdosa pada langkah yang kau ambil.

Sudah berapa kali kau sakiti Waktu hingga detik ini? Bahkan Waktu yang rela berkorban dan berjuang sejak lama saja kau rela menyakitinya. Oh Tuhan, semoga ini terakhir kalinya. Waktu yang belum kau kenal pun kau rela menyakitinya.

Sudahlah jika kau tidak mau beranjak dan berusaha pergi dari Senja, aku saja yang redup dan hilang. Biarkan aku tak terbit lagi. Kau menunjukkan bahwa kau tak mau meninggalkan 2 Waktu yang berbeda. Sepertinya kau suka dengan hal itu. Kau pasrah, tapi usahamu berhenti. Apakah ini yang dinamakan mempertahankan Waktu yang telah menemanimu selama ini?

Aku sudah lelah Embun, lelah dengan kebimbangan ini. Jujur aku lemah. Tapi aku kuat jika aku sendiri daripada kau berpindah-pindah pada Waktu yang berbeda. Iya, sekarang aku masih bisa merasakan Embun di Pagi hari, nyaman dengan Embun, berharap pada Embun, mempersilakan Embun untuk singgah. Tapi aku tak tau semenit setelah ini, apakah aku bisa menahanmu untuk tidak menguap dan hilang atau aku pun juga hilang menjelma Siang atau pun Senja.

Maafkan aku. Aku ingin mencari pendamping sejati. Maafkan aku, Embun. Aku menanti sesuatu yang tulus dan setia untuk merebah padaku. Maafkan aku, hingga detik ini kau bukan ciri-ciri yang aku cari dan aku nanti. Tuhan, izinkan aku pergi. Izinkan aku sendiri dalam menanti. Izinkan aku bahagia seperti Embun ketika bisa bahagia merebahkan dirinya kepada Senja.

Tuhan, mungkin aku bodoh. Mungkin aku terlihat merengek mengais harapan kepada Embun. Mungkin aku lemah ketika aku tidak bisa memeluk sejuknya lagi. Ah aku sudah kehilangan sedikit rasa, aku bukan prioritas, aku bukan yang selalu dikunjunginya lagi. Ada yang lain, ada yang membuatnya bahagia, ada yang membuatnya kemilau di Waktu yang lain. Ada yang harus ia rindu selain aku. Ketika aku merindukanmu, Embun, aku berharap kau membalas rinduku. Tapi aku lupa bahwa yang kau rindu bukan hanya aku.

Aku sudah kehilangan beberapa harapan, biarkan rangkaian waktu yang menjawab, waktuku sebentar lagi usai Embun, waktuku tak panjang. Mungkin ini terakhir. Aku akan menjelma menjadi Waktu yang terik waktu yang tak pernah kau suka. Bisa saja kau simpulkan, aku bukan pilihanmu karena aku memilih untuk memudar dan pergi.

Embun, aku masih punya cita-cita besar untuk aku jemput. Tinggal kau mau berlama-lama merebah dalam belaian Senja atau kau punya pilihan untuk sendiri juga. Aku tak memaksamu untuk kembali ke aku. Tambahkan saja dalam doamu, semoga ketika aku sendiri tidak ada sesuatu yang lain yang datang dan aku bisa menjaga suasana Pagi ini untukmu. Agar nanti, ketika kau tulus merindukan dan kembali kepadaku, aku bisa menerima rebahan kemilaumu yang sejuk lagi.

-Salam hangat dari Pagi.

Credit:
Picture Detail: “Embun – Padi tak pernah khawatir embun jatuh dari tangkainya. Ia hanya menerima apa yang diberikan. Selebihnya, biarlah tanah yang menikmati kesejukan embun pagi.”
Loc: Sawah Dodogan, Desa Purwokerto, Patebon, Kendal
Time: 12 Januari 2018, 06:02 WIB