Waktu yang Salah

Waktu yang Salah

Kalimat yang aku ucapkan di awal surat “Aku baik-baik saja”, kau tahu kan kalau aku berbohong? Bahkan kota yang berlalu ini tahu, kota yang selalu dilalui hujan di bulan November; November Rain. Akhir Desember ini pun semesta masih menurunkan kesedihannya. Meski musim bunga telah berakhir dengan gugurnya keindahan, kesedihan November Rain masih melekat erat.

Pada akhir bulan ini, bulan yang paling akhir di penghujung tahun, aku putuskan untuk sementara menguap lebih awal; atau menguap selamanya jika memang telah digariskan. Meski aku tahu musim hujan masih lah panjang, dan semesta masih memberiku kesempatan untuk merebah pada Pagi atau Senja.

Perihal rasa ini, biarlah aku tahan semampuku. Aku tak mau ketika aku datang kepadamu lagi, kau bilang “Hai Embun, kau datang saat kau butuh saja. Selepasnya di malam yang sunyi, aku sendirian. Menggigil dan kehilangan kemilauku. Kau tak menghargai hadirku.” Namun percayalah, aku datang karena kamu butuh. Aku hilang karena menahan rasa. Dan apa lagi yang lebih sakit dari menahan rasa? Saat menahan rasa, tapi dianggap hilang karena sudah tak butuh. Aku di sini menahan perasaan yang sama.

“Jika ada perasaan yang tidak dapat dirasakan saat aku memegangmu, aku akan mengambil rasa sakit yang tidak dapat diungkapkan itu sekarang. Aku tahu kau mencoba untuk menyembunyikan air mata yang tak terhitung di balik senyuman. Ya, aku tahu bahwa kamu terluka. Walaupun kita sangat dekat, aku bertanya – tanya kenapa itu terkadang menyakitkan.” –Ikimonogakari – Futari

Kau boleh membenciku. Hanya saja aku ingin kau tahu, aku tak pernah sengaja menjatuhkan tetes embun ini ke tanah saat bersamamu atau tiba-tiba menguap kemudian beralih ke lain Waktu. Aku pun berusaha tidak mengatakan apa pun. Hanya saja aku tidak memiliki pilihan untuk berbohong. Bukan kah kita memulai semuanya dengan saling terbuka atau diam saja? Bukan mengelabui atau berbohong?

Seharusnya aku tidak menuhankan rasaku. Rasa yang entah ini adalah jalan yang dikehendaki-Nya; “Waktu” yang salah dengan rasa yang tepat atau hanya ilusi saja. Ketika aku berdoa kepada Tuhanku, Dia juga menjawab dengan hal sama; membuatku terjebak dalam kebimbangan. Lalu Tuhan mana lagi yang aku tuju? Mungkin akulah satu-satunya yang tak pernah dianggap oleh Tuhan.

Maafkan aku. Sejak awal memang salah Embun. Aku bukan embun yang baik. Kau tahu dan kau tidak bisa menyangkalnya. Aku menciptakan musuhku sendiri. Mungkin benar aku lah yang seharusnya menguap. Pagi dan Senja tetap akan abadi.

Di mana pun, selalu ingat pesanku. Kau boleh bersikap beku, melupakanku, atau menghapus semua kenangan. Tapi kau tak boleh melupakan pesanku. Itu lebih mahal dari aku dan seisinya.

Aku di sini baik-baik saja. Aku di sini tak akan pernah terkena terik, angin badai, dingin, atau hal mengerikan lainnya. Satu hal yang selalu membuatku kawatir. “Membusuk oleh kesepian yang sepertinya damai dan menyejukkan.”

Credit:
Picture Detail: “ Kemanapun yang kau tuju, selalu ingat pesanku. Kau boleh bersikap beku, melupakanku, atau menghapus semua kenangan. Tapi kau tak boleh melupakan pesanku. Itu lebih mahal dari aku seisinya. ”
Loc: Wonosobo, Jawa Tengah
Time: 18 Oktober 2018, 20:37 WIB

 

A SECRET
  • BUKA

    00100000 00100000 00110111 00110011 00100000 00110110 00110101 00100000 00110110 00110011 00100000 00110111 00110010 00100000 00110110 00110101 00100000 00110111 00110100 00100000 00110010 01000101 00100000 00110111 00110110 00100000 00110110 00110001 00100000 00110110 01000101 00100000 00110110 00110101 00100000 00110111 00110011 00100000 00110111 00110100 00100000 00110110 00110001 00100000 00110010 01000101 00100000 00110110 01000101 00100000 00110110 00110101 00100000 00110111 00110100