Terlalu lama? Tutup di sini

Sang Pemimpi(n)

sidebar aku delonix vanesta

Tentang semua impian, harapan dan sebuah pencapaian, telah aku lalui dengan perjuangan keras tahun ini. Tahun ini lah aku menuai semua kegagalan atas semua mimpi-mimpiku yang entah terbang kemana kemudian hilang. Mimpi yang tak kunjung datang sampai satu menit sebelum tahun berganti. Aku masih menunggunya, sedetik pun aku tak mau melewatkannya, siapa tahu mimpi itu hadir di menit terakhir atau detik terakhir. Aku masih setia menunggu jawaban dari langit.

Aku tahu, aku pun paham ketika aku memperbanyak mimpiku, semakin banyak pula kegagalan yang akan aku tuai di akhir ceritanya. Aku pun tahu, aku juga paham ketika aku bermimpi tinggi, setinggi angkasa misal, semakin keras aku jatuh menuju bumi. Tapi hati dan otakku yang terus berpikir bicara; “Ya aku akan terus bermimpi dan berusaha sebanyak-banyaknya, biarlah aku gagal jutaan kali, setidaknya keberhasilanku juga akan bertambah. Minimalnya kesempatan untuk berhasil juga bertambah. Aku akan terus bermimpi setinggi-tingginya. Meski aku akan jatuh dengan kecepatan tinggi ketika aku gagal, aku masih punya kesempatan untuk jatuh di gunung, di dataran yang lebih tinggi, atau minimal nyangkut di pohon, tidak di tanah lagi. Setidaknya aku telah berpindah dan berproses.

Terlepas dari semua kegagalanku, aku juga telah menuai apa yang Tuhan berikan kepadaku. Menuai yang menjadi porsiku tahun ini. Karena aku tahu, hidup itu tentang keberhasilan dan kegagalan. Tentang keduanya, bukan melulu tentang gagal, atau berhasil terus-terusan. Walaupun sebenarnya gagal adalah suatu keberhasilan, bukan keberhasilan yang tertunda, namun lebih ke berhasil menggagalkan diri. Seperti itulah aku mendefinisikannya dari sudut yang berbeda.

PC Red Eyes B. Dragon v2
PC Red Eyes B. Dragon

Tahun 2018 ini, aku telah menuai beberapa mimpiku dari ratusan mimpi-mimpi yang masih melayang bebas di langit. Tahun ini, pada awal bulan, aku telah berhasil melahirkan nagaku: si Red Eyes B. Dragon, si naga kecil yang setahun ini menemaniku tanpa lelah, dalam suka, duka dan semua pahitnya perjuangan. Entah berapa giga-flop ia hasilkan untuk menemaniku. Entah berapa ribu GigaByte yang telah ia konsumsi sejak ia lahir. Entah berapa ratusan ribu menit ia render untuk menghasilkan sebuah kehidupan. Entah berapa juta warna yang ia hasilkan untuk menciptakan sebuah keindahan. Entah berapa juta inodes yang ia kirim ke internet demi menciptakan rumah maya. Aku tak ingat, bahkan aku tak menghitungnya. Bukan aku tak menghargai jasanya. Namun yang lebih penting, cahaya warnanya masih setia menemaniku sampai detik ini dan aku akan masih menyayanginya meskipun pencapaian terbesarku dan dia masih dalam angan.

Di tahun ini juga aku mulai berkarya dengan mengabadikan berbagai keindahan dengan kameraku. Aku pun sebenarnya tak berharap banyak pada mulanya. Hanya sebatas hobi. Namun dari hobi itu aku belajar banyak hal yang belum aku tahu sebelumnya. Dengan ini pula sedikit demi sedikit aku melangkahkan kaki dan berbagi dengan dunia luar yang luas. Mengarungi gunung tertinggi, samudera terluas, angkasa yang membentang, jalan tanpa batas, mengabadikan eloknya Pagi, dan bertemu Senja. Ya semua itu proses menuju sebuah impian, sebuah aliran sungai yang panjang dan berkelok yang entah kapan sampai pada ujungnya dan bermuara. Satu hal yang membuatku yakin; Semua usaha itu, akan bermuara di laut yang sama. Meski di belahan bumi yang berbeda.

365 hari. Layaknya Microsoft Office 365 yang selalu berkembang dan diperbarui setiap saat, aku menghabiskan 365 hari dengan belajar dan terus belajar. Menuliskan dan merangkai jalan kisahku di Ms. Word. Mengatur dan mengkalkulasi kebutuhan hidupku di Ms. Excel. Mempresentasikan perjuangan dan pencapaianku di Ms. Power Point. Menorehkan catatan dan mimpiku di Ms. OneNote. Menghubungkan mimpi-mimpiku di Ms. Access. Berbagi mimpi di Ms. OneDrive. Seperti itulah kira-kira 365 hariku yang mana telah terpresentasikan melalui kode-kode rumit HTML, php, javascript dan CSS sehingga dapat tampil di layar gadgetmu.

Ya, ini adalah tahun yang panjang dan berat, dengan semua perasaan yang tak bisa dijelaskan karena telah teraduk sedemikian rupa dan warna. Tahun dengan impian-impian yang pudar. Tahun ke-6 dalam sebuah perjalanan panjang menemukan tulang rusuk. Tahun kehilangan dan mimpi-mimpi yang gugur. Tahun yang menandai 8 tahun aku belajar dalam dunia blog dan web development; sehingga kau dapat melihat tulisan ini berderet mesra membawa sebuah cerita. Meski blog ini masih berusia 2 bulan, aku harap tulisan ini akan berumur ribuan tahun lagi di masa depan. Satu mimpi lagi yang aku tunggu kegagalan atau pun keberhasilannya.

Mimpi. Itu lah motivasi terbesar sekaligus sebuah nightmare dalam hidup. Sebuah harapan sekaligus keputusasaan yang saling terkait. Ibarat angka-angka biner yang saling melengkapi untuk menghasilkan makna. “Aku itu 0, kamu itu 0, dia 0, kalian 0, mereka pun 0, kita semua 0. Kita semua tak mempunyai makna. Ketika 1 masuk dalam diri kita, barulah kita mempunyai makna. 1000 misal. 1 itulah Sang Ahad, Yang Maha Satu.” Mimpi akan tetap mimpi tanpa restu-Nya.

Sang Pemimpi. Itulah aku. Banyak mimpi-mimpi yang telah aku rangkai. Dari terendah sampai tertinggi melampaui semesta. Jika kau bertanya kenapa aku tak menorehkan mimpi-mimpi apa saja yang telah gagal atau pudar bahkan hilang ke dalam tulisan ini, maka akan ku jawab: “Mimpiku tak akan pernah muat di sini. Terlalu panjang untuk diceritakan, terlalu sedih untuk dikenang, terlalu tinggi untuk dipikirkan, atau mungkin terlalu maya.” Namun di sini lah semua berawal. Di sinilah aku melalui 365 hariku. Aku pun siap untuk kegagalan yang menanti selanjutnya. Akan kubiarkan kata gagal tersemat ke dalam nama tengahku. Namun suatu saat nanti kupastikan juga akan tersemat huruf (n) untuk Sang Pemimpi.

Picture Detail: “Sang Pemimpi(n)”
Loc: Mt. Ungaran, Kab. Semarang, Jawa Tengah
Time: 15 September 2018, 15:54 WIB