Terlalu lama? Tutup di sini

Sejatinya Cinta

Sejatinya-Cinta-min

Langit masih menampakkan basahnya setelah seharian hujan tanpa henti. Matahari pun lelah dan terlihat mulai bersandar ke horizon. Cahayanya yang kuning keemasan menembus lubang-lubang awan yang mulai memudar. Menciptakan garis-garis lurus nan elok yang kemudian jatuh di butiran embun yang sedang merebah di hamparan padi yang luas. Seluas harapan dan mimpi seorang pemuda yang sedang duduk di pematang sawah sore itu.

Tatapan wajahnya kosong. Mungkin sedang menikmati indahnya senja, atau bisa saja ada hal lain yang sedang ia pikirkan. Terdiam lama seperti tidak ada hal lain lagi yang ingin ia lakukan.

“Hai nak, ayo lekas pulang. Sudah cukup untuk sore ini. Sawah sudah teraliri sebagian, lanjut besok lagi.” Sapa seorang tua beruban memakai peci hitam lusuh dari belakang.

“Nak, ayo pulang.” Kata orang tua itu lagi agak keras sembari menepukkan tangannya ke pundak pemuda yang sedang duduk itu.

“Eh, iya iya pulang. Maaf guru, tadi gak denger.” Pemuda itu kaget, ia menggeleng-gelengkan kepala sambil mengedipkan mata beberapa kali. Berharap kesadarannya segera pulih.

“Ada apa nak? Sehabis mengaliri air di sawah tadi, kamu hanya duduk di pinggiran seperti itu. Ngelamun terus.” Tanya si orang tua penasaran.

“Sebenarnya gak ada apa-apa sih. Cuma terkadang aku merasa bingung dan sedih saja dengan hidup ini. Aku sudah lama membantu guru di pondok ini selama bertahun-tahun. Aku rasa tahun besok sudah waktunya aku pulang. Orang tuaku memintaku untuk pulang kampung, dan disegerakan menikah.” Pemuda itu mengeluh.

“Oh ternyata hal sepele. Ya kalau itu memang permintaan orang tuamu, kamu laksanakan. Kamu sudah banyak membantu di pondok ini selama bertahun-tahun, aku rasa sudah waktunya kamu pulang dan membantu orang tuamu di kampung halaman. Lantas apa yang membuat kamu sedih dan bingung?”

“Yang jadi masalah aku belum menemukan cinta sejatiku, guru. Belum menemukan yang cocok dan yang terbaik bagiku.” Terang si pemuda.

“Lah nak, nak, di pondok putri kan banyak. Gak ada yang kamu suka? Atau masih cari yang terbaik?” Tanya si guru penasaran.

“Belum guru, ada sih yang aku suka. Tapi belum berani memutuskan apakah itu yang terbaik bagiku. Masih bimbang. Lantas sebenarnya apa sejatinya cinta itu?” Kata si pemuda.

“Kamu mau tahu apa sejatinya cinta? Besok pergilah ke taman bunga dan petikkan satu bunga yang terindah untukku!” Jawab si guru.

“Bunga? Baik besok aku coba pergi ke taman bunga dan cari bunga terindah yang bisa aku temukan di sana.” Kata pemuda dengan rasa penasaran.

“Baik, besok aku tunggu di rumah. Sekarang waktunya pulang, sudah hampir maghrib.” Lanjut guru.

Matahari mulai tenggelam, warna jingga di langit lambat laun mulai memudar. Gelap mulai menghampiri. Si pemuda dan guru beranjak pulang ke pondok.

***

Keesokan hari, di pagi yang cerah pemuda itu mengayuh sepedanya ke taman bunga terdekat. Mencoba melaksanakan perintah guru; memetik bunga terindah. Terlihat wajah pemuda itu penuh ambisi dan semangat ingin segera melaksanakan perintah. Ia kayuh sepeda dengan cepat menuju taman.

Setelah beberapa lama mencari bunga, dia kembali dan menuju rumah sang guru. Ia mengetuk rumah gurunya, terlihat sepi dari luar. Sepertinya guru sedang keluar atau sedang di pondok. Mungkin dia harus kembali lagi lain kali.

“Bagaimana sudah menemukan bunga terindahmu?” Tanya seseorang yang menghampirinya dari belakang. Ternyata guru sudah berada di belakang ketika pemuda tak sadar mengetuk pintu.

“Aku tidak membawa apa pun guru. Aku minta maaf.” Kata pemuda.

“Tidak membawa apa pun? Lantas apa saja yang kamu lakukan semenjak tadi pagi?” Tanya guru.

“Sebenarnya aku telah menemukan bunga yang indah sekali. Begitu indahnya sehingga aku terkagum-kagum. Ketika akan memetiknya tiba-tiba aku berpikir untuk mencari yang lain. Siapa tahu ada bunga yang lebih indah. Berjam-jam aku mencari lagi. Sampai ke sudut-sudut terkecil. Hingga aku sadar bahwa aku sebenarnya telah menemukan bunga terindah tadi dan mengabaikannya. Segera aku kembali untuk memetiknya, namun bunga itu telah tiada ketika aku sampai di tempat semula.” Kata pemuda.

“Demikianlah cinta. Seringkali kamu tak menghargai kehadirannya dengan semestinya saat ia berada di depanmu. Kamu baru benar-benar mengerti betapa bernilainya saat kamu mulai kehilangan dia.” Terang sang guru.

“Lantas apakah selama ini sebenarnya aku mengabaikan rasa dan apa yang telah Tuhan titipkan ke diriku? Apakah aku mungkin kurang atas rasa syukur?” Tanya pemuda, matanya mulai berkaca-kaca.

“Hatimu yang paling dalam bisa merasakannya.”

***

Picture Detail: “Lukisan Bunga – Dwi Atmawati”
Loc: Perpusda Kota Salatiga
Time: 15 Mei 2017