Evol

Love halini mahap ialum ukaAgajret uka numanUyal ulal aratnemes hubmutUmes aynah ini atnic arik ukAtsemes nad utkaw iuapmalem Ukilreb nalaj iulalem nasni halaynah ukaApul uka numanItneh apnat ujalem surulNatabmah sabeb nalaj itrepes ini pudih arik ukNanalajrep hitup matih iuapmalem Hubalreb kutnu agamred ada nikay ukaAsarem uka numanHasileg hara apnat nalajrebAnkam apnat ini ahasu arik ukAsa

Sejatinya Cinta

Langit masih menampakkan basahnya setelah seharian hujan tanpa henti. Matahari pun lelah dan terlihat mulai bersandar ke horizon. Cahayanya yang kuning keemasan menembus lubang-lubang awan yang mulai memudar. Menciptakan garis-garis lurus nan elok yang kemudian jatuh di butiran embun yang sedang merebah di hamparan padi yang luas. Seluas harapan dan mimpi seorang pemuda yang sedang

Waktu yang Salah

Kalimat yang aku ucapkan di awal surat “Aku baik-baik saja”, kau tahu kan kalau aku berbohong? Bahkan kota yang berlalu ini tahu, kota yang selalu dilalui hujan di bulan November; November Rain. Akhir Desember ini pun semesta masih menurunkan kesedihannya. Meski musim bunga telah berakhir dengan gugurnya keindahan, kesedihan November Rain masih melekat erat. Pada

Surat Cinta dari “Pagi”

Mendadak tubuhku melemah. Lebih lemah dari hari yang pernah terlewati. Mendadak tubuhku dingin, sedingin sikapmu padaku. Berkali-kali rasa sakit itu menimpaku. Sakit, sakit, dan sakit. Suratku tak mengubahmu. Usahaku kau anggap angin berlalu. Baik, dengan kelembutan hati yang dingin, sedingin pagi buta dan rasa sakit yang sangat berbekas, aku putuskan untuk menguapkan Embun. Biarlah aku

Jurnal Mimpi

Mimpi. Sebuah kata sederhana yang mengandung banyak harapan. Mungkin juga terselip beberapa doa di dalamnya yang terus memohon agar mimpi bukanlah sekadar mimpi. Apalagi mimpi di atas mimpi. Aku, layaknya banyak orang di luar sana, mengawali hari dengan harapan. Atau bisa disebut sebuah impian. Ada pepatah mengatakan, “Hidup berawal dari mimpi”. Ya, hidup memang berawal

Lubang di Hati

Hati manusia, hati yang mudah rapuh. Ia terombang-ambing tanpa kepastian. Ia menyelusuri berjuta kilometer demi menemukan muara terakhir dalam persinggahan. Perjalanan panjang yang begitu melelahkan, dengan liku, terjangan arus, dan hambatan sepanjang aliran. Berharap menemukan sesuatu yang mampu melengkapi lubang di hati. Manusia memiliki lubang di hati. Lubang yang suatu saat akan terisi. Entah seberapa