Evol

Love halini mahap ialum ukaAgajret uka numanUyal ulal aratnemes hubmutUmes aynah ini atnic arik ukAtsemes nad utkaw iuapmalem Ukilreb nalaj iulalem nasni halaynah ukaApul uka numanItneh apnat ujalem surulNatabmah sabeb nalaj itrepes ini pudih arik ukNanalajrep hitup matih iuapmalem Hubalreb kutnu agamred ada nikay ukaAsarem uka numanHasileg hara apnat nalajrebAnkam apnat ini ahasu arik ukAsa

Sang Pemimpi(n)

Tentang semua impian, harapan dan sebuah pencapaian, telah aku lalui dengan perjuangan keras tahun ini. Tahun ini lah aku menuai semua kegagalan atas semua mimpi-mimpiku yang entah terbang kemana kemudian hilang. Mimpi yang tak kunjung datang sampai satu menit sebelum tahun berganti. Aku masih menunggunya, sedetik pun aku tak mau melewatkannya, siapa tahu mimpi itu

Waktu yang Salah

Kalimat yang aku ucapkan di awal surat “Aku baik-baik saja”, kau tahu kan kalau aku berbohong? Bahkan kota yang berlalu ini tahu, kota yang selalu dilalui hujan di bulan November; November Rain. Akhir Desember ini pun semesta masih menurunkan kesedihannya. Meski musim bunga telah berakhir dengan gugurnya keindahan, kesedihan November Rain masih melekat erat. Pada

Jurnal Mimpi

Mimpi. Sebuah kata sederhana yang mengandung banyak harapan. Mungkin juga terselip beberapa doa di dalamnya yang terus memohon agar mimpi bukanlah sekadar mimpi. Apalagi mimpi di atas mimpi. Aku, layaknya banyak orang di luar sana, mengawali hari dengan harapan. Atau bisa disebut sebuah impian. Ada pepatah mengatakan, “Hidup berawal dari mimpi”. Ya, hidup memang berawal

Lubang di Hati

Hati manusia, hati yang mudah rapuh. Ia terombang-ambing tanpa kepastian. Ia menyelusuri berjuta kilometer demi menemukan muara terakhir dalam persinggahan. Perjalanan panjang yang begitu melelahkan, dengan liku, terjangan arus, dan hambatan sepanjang aliran. Berharap menemukan sesuatu yang mampu melengkapi lubang di hati. Manusia memiliki lubang di hati. Lubang yang suatu saat akan terisi. Entah seberapa

Embun Senja

Embun senja, terdengar aneh memang. Seharusnya seperti embun pagi, di mana uap air merebahkan lelahnya ke tanaman terdekat. Karena terlalu lama melayang di udara dan kedinginan di pagi yang menggigil. Bersatu menciptakan pagi yang eksotis. Namun kisah ini bukan soal pagi dan keindahan embunnya. Kisah ini tentang embun senja. Ijinkan aku berkisah sebelum senja mulai