Terlalu lama? Tutup di sini

Waktu yang Salah

Kalimat yang aku ucapkan di awal surat “Aku baik-baik saja”, kau tahu kan kalau aku berbohong? Bahkan kota yang berlalu ini tahu, kota yang selalu dilalui hujan di bulan November; November Rain. Akhir Desember ini pun semesta masih menurunkan kesedihannya. Meski musim bunga telah berakhir dengan gugurnya keindahan, kesedihan November Rain masih melekat erat. Pada

Surat Cinta dari “Pagi”

Mendadak tubuhku melemah. Lebih lemah dari hari yang pernah terlewati. Mendadak tubuhku dingin, sedingin sikapmu padaku. Berkali-kali rasa sakit itu menimpaku. Sakit, sakit, dan sakit. Suratku tak mengubahmu. Usahaku kau anggap angin berlalu. Baik, dengan kelembutan hati yang dingin, sedingin pagi buta dan rasa sakit yang sangat berbekas, aku putuskan untuk menguapkan Embun. Biarlah aku

Jurnal Mimpi

Mimpi. Sebuah kata sederhana yang mengandung banyak harapan. Mungkin juga terselip beberapa doa di dalamnya yang terus memohon agar mimpi bukanlah sekadar mimpi. Apalagi mimpi di atas mimpi. Aku, layaknya banyak orang di luar sana, mengawali hari dengan harapan. Atau bisa disebut sebuah impian. Ada pepatah mengatakan, “Hidup berawal dari mimpi”. Ya, hidup memang berawal

Lubang di Hati

Hati manusia, hati yang mudah rapuh. Ia terombang-ambing tanpa kepastian. Ia menyelusuri berjuta kilometer demi menemukan muara terakhir dalam persinggahan. Perjalanan panjang yang begitu melelahkan, dengan liku, terjangan arus, dan hambatan sepanjang aliran. Berharap menemukan sesuatu yang mampu melengkapi lubang di hati. Manusia memiliki lubang di hati. Lubang yang suatu saat akan terisi. Entah seberapa

Embun Senja

Embun senja, terdengar aneh memang. Seharusnya seperti embun pagi, di mana uap air merebahkan lelahnya ke tanaman terdekat. Karena terlalu lama melayang di udara dan kedinginan di pagi yang menggigil. Bersatu menciptakan pagi yang eksotis. Namun kisah ini bukan soal pagi dan keindahan embunnya. Kisah ini tentang embun senja. Ijinkan aku berkisah sebelum senja mulai

Hina Diriku

Dalam kesunyianku Selalu berusaha mengingat-Mu Meskipun setan terkutuk Selalu mengintai dalam hidupku Entah sampai kapan Udara masih melaju dalam lubang kehidupanku Hanya Kau lah yang tahu Kapan ajal menjemputku Rasa sakit ini Saat tak besama-Mu Hati ini terasa tak pernah terlahirkan Maupun terciptakan Sungguh hina diriku Tak pantas masuk surga-Mu Hanya neraka tempatku kembali Namun